Rabu, 12 Desember 2012

Riwayat dan Hikmah “Peta Kapanca”

KM-BOLO—“PETA KAPANCA” salah satu bagian dari warisan budaya orang Bima (Dou Mbojo) pada masa silam. Upacara “Peta Kapanca” sudah dikenal sejak agama Islam mulai masuk ke tanah Bima.
Dzikir Kapanca, melagukan dan menggambarkan lantunan kalimat selamat datang kepada baginda Nabi Muhammad SAW di Madinah yang terkenal dengan lagu Marhaban. Ditengah lantunan dzikir Kapanca tersebut, dimulailah pelaksanaan pembubuhan Kapanca yang dilakukan para leluhur di masa dulu.
Sampai saat ini, “Peta Kapanca” yang dilakukan para leluhur di masa dulu, telah menjadi tradisi masyarakat Bima sebagai salah satu rangkaian upacara pernikahan.
Upacara “Peta Kapanca” dilangsungkan dirumah calon pengantin wanita, sebelum prosesi Aqad Nikah dilaksanakan.
Sebelum pelaksanaan “Peta Kapanca”, terlebih dahulu dilaksanakan acara “Sangongo”—atau dalam bahasa Mbojonya “Mboho Oi Mbaru” yang ditaburi dengan bunga-bunga harum semerbak, serta acara “Cafi Ra Hambu Maru Kai”—yang maksudnya menata dan merias kamar calon pengantin wanita menjadi indah dan romanti.
Sebelum duduk disinggasana “Peta Kapanca”, terlebih dahulu calon pengantin wanita dirias agar dilihat indah dan cantik dipandang mata—atau dalam bahasa Bima “Na Ambi Ro Na Ntika Ra Ntada Ra Eda Ba Dou”.
Semntara dalam upacara “Peta Kapanca”, juga dihadiri oleh ibu-ibu dari pihak keluarga, kaum kerabat, handai taulan dan tetangga yang berhajat. Lumatan daun pancar (Ro’o Kapanca) diletakkan pada telapak tangan calon pengantin wanita oleh ibu-ibu dari keluarga dan kerabat terdekat serta ibu-ibu yang ditokohkan dan dipanuti masyarakat.
Tanda merah pada telapak tangan calon penganti wanita, menunjukkan sang gadis akan menjadi milik seseorang yang sebentar lagi akan dilangsungkan prosesi Aqad Nikah.
Biasanya, jumlah ibu-ibu yang secara bergilir meletakkan lumatan daun panca tersebut, harus ganjil. Prosesi “Peta Kapanca” juga diiringi oleh lantunan dzikir sebaga do’a restu dan harapan agar kelak calon pengantin mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan menjadi pasangan yang sakinah, Mawadah, Warrahman dibawah Ridho Allah SWT.
Upacara “Peta Kapanca”, juga memberikan hikmah dan contoh kepada para gadis remaja lainnya agar bisa mengikuti jejak calon pengantin wanita yang mengakhiri masa lajangnya dengan baik dan bermartabat.
Pada ujung acara tersebut—rangkaian bunga-bunga telur yang sudah disiapkan, akan diperebutkan oleh ibu-ibu undangan yang memiliki anak gadis. Rebutan bunga-bunga telur dalam bahasa Bima adalah “Ranca Male”. Telur yang didapatkan di acara itu, nantinya akan dikonsumsi oleh anak gadis mereka. Sedangkan rangkai bunganya dijadikan hiasan pada kamar anak gadis itu pula.
Itulah sebabnya, upacara “Peta Kapanca” menjadi dambaan para ibu-ibu masyarakat Bima, dengan harapan semoga anak gadis mereka cepat mengakhiri masa lajangnya dan akan melewati upacara yang sama yakni “Peta Kapanca”.(adi arega)
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes